Tampilkan postingan dengan label Budaya Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Diri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

Hakikat Adat Istiadat


Setelah kita menelusuri lebih jauh tentang hakekat adat, akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan pendapat bahwa adat adalah merupakan bentuk kepercayaan asli nenek moyang kita yang mirip dengan agama Hindu, dan telah telah terkontaminasi oleh ajaran Kristen ataupun Islam. Hal ini memang dapat diterima akal karena pada jaman raja-raja berkuasa Indonesia agama Hindu yang sangat dominan, dan setelah itu masuklah pengaruh agama Islam dan agama Kristen pada jaman pemerintahan Hindia Belanda.
Hamper semua bantuk dan jenis adat pada dasarnya berorientasi pada kesejahteraan dan keselamatan hidup di dunia. Sedikit sekali bahkan hamper sama sekali tidak menyentuh tentang keselamatan jiwa disurga. Kalaupun ada, hal inin telah dipengaruhi oleh ajaran agama Kristen atau Islam.
Pendapat diatas diperkuat berdasarkan dia panyangahatn pada setiap kali mengadakan upacara adat yang dapat kita simak sebagai berikut : … “ Minta maraseh salamat-batubuh ringakng-basengat lanu’ basukat ampa mulakngi’ pasaratn-ampanyenok ai’ nyenok karasik-ahe dicinta samua dapay-kaya raya-bapadi ngisi’I  pati-bajalu sakumakng lati-bamanok sasige aur. Iatn nang dipinta dipulih ka’ kita pama jubata (Ne’ Pajaji)”. Kadang kala kita pernah mendengar sang panyagahatn dalam doanya menyebut “subayatn” tetrapi subayatn tidaklah dapat diartikan sebagai surge.kata subayatn mulai dikenal dari cerita Nek Baruakng dimana dalam perjalanan mengembara ia KAWIN DENGAN SEORANG GADIS YANG SANGAT CANTIK BERNAMA Nek Si Putih Panara Subayatn, dan hasil dari perkawinannya itu lahirlah segala jenis rasi seperti sooh, keto,kutuk, dll. Dengan demikian subayatn dapat diartikan sebagai tempat tinggal roh-roh halus yang suka ngarere’-ngalimat (menggoda-merayu) Talino.
Jadi hamper tidak ada menyentuh diakhirat menurut pandangan adat, akhirat itu tempat yang suci barqaseh tidak ada kesalahan dan noda dosa diakhirat tempat yang abadi, karena menurut pandangan adat perbuatan baik dan jahat semua akibatnya diterima didunia seperti pepatah mengatakan. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, kalau orangnya berbuat baik, dirinya dan keturunannya tali darahnya akan menerima kebaikannya. Kalau dia suka berbuat kejahatan, dirinya dan keturunan tali darahnya akan menerima kejahatan pula, ini semua diwariskan kepada anak  bahkan sampai kepada cucu dan cicitnya, makanya kalau orang yang melakukan kejahatan membunuh, ini akibat sial sengsaranya sampai 7 keturunan. Oleh sebab itu adat berprinsip orang baik itu sering melakukan yang terbaik, walaupun ia mendapat kelebihan sedikit ini dikatakan sugih. Tapi yang namanya orang jahat tidak pernahberbuat untuk orang lain selain menguntungkan dirinay sendiri apalagi kalau memang dianya sudah terkontaminasi oleh tali darah orang jahat  keturunannya, penipu, perampok, pembunuh, preman pekerjaan usaha yang dipilihnya pasti sifatnya berdiri diatas kesusahan dan penderitaan orang lain. Dia tetap bisa jadi orang kaya tetapi tidak menjadi orang baik. Anak cucu keturunan tali darahnya akan menerima badi, tulah dan kicas balasan perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya itu.
b.      Penjelmaan hidup Kembali Atau Reinkarnasi
Meskipun  kita telah berkesimpulan berdasarkan doa panyagahatn bahwa adat pada dasarnya berorientasi kepada hal-hal duniawi, namun apabila kita cermati dengan seksama ternyata ajaran adat sangat mengutamakan dan memprioritaskan hal-hal yang baik seperti saling mengasihi, tidak boleh melakukan kejahatan bahkan keseimbangan batin harus dijaga. Ajaran adat mengenal adanya tulah, sangar dan kicas atau karma, pantang pamali. Adat percaya adanya penjelmaan hidup baru setelah kematian, maka baik buruknya penjelmaan kehidupan baru itu sangat berngantung kepada baik buruknya prilaku manusia selama hidupnya. Pendapat tentang penjelmaan hidup baru dalam baka ini (reinkarnasi) sebagaimana dapat kita simak dari kata-kata atau pesan terhadap orang mati. Dalam pesan tersebut diatas, menurut kepercayaan adat penjelmaan hidup kembali menjadi manusia baru memang dapat kita yakini. Untuk membenarkan pendapat diatas aka kalau ada orang yang meninggal dunia dia orang yang sudah cukup tua dan perbuatan semasa hidupnya tergolong orang baik, dia kaya sugih bukan kaya harta dianya orang tua perbuatannya tidak baik, misalnya membunuh, perampok, suka dengki dengan kehidupan orang lain yang sejalan dengan cara hidupnya dan lain sebagainya, ini dianggap dianya menjadi roh-roh jahat, menjadi pengacau pengaru, menjadi baho kadoko ka’ uma, ka tahutn jadi setan iblis sering menganggu kehidupan manusia termasuk kehidupan anak cucu tali darahnya. Kalau dianya anak-anak yang belum pernah berbuat apa-apa ini bisa juga menjelma hidupnya kembali menjadi manusia dalam bentuk baru ini dapat diyakini ada beberapa contoh dalam masyarakat adat, mereka member tanda dengan kapur dan kunyit dibagian tertentu anak yang baru meninggal, itu setelah beberapa tahun kemudian lahirlah seorang anak dilingkungan keluarga dekat pasti mempunyai tanda berupa tahi lalat pada bagian yang diberi tanda itu, sedangkan hal ini tidak pernah dilakukan terhadap orang dewasa, alasannya karena orang dewasa selama hidupnya sudah banyak terkontaminasi oleh perbuatan yang kurang baik, namun demikian berdasarkan keyakinan bahwa perbuatan baik itu bisa juga menjelma masuk kepada manusia lain kalau dia juga tergolong orang baik misalnya dia mendapatkan kedudukan ditengah-tengah masyarakat jadi pemimpin organisasi, jadi pemimpin perusahaan bahkan menjadi pemimpin Negara, pemimpin agama,melioner, dan lain sebagainya pokoknya menjadi orang terkemuka.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Upacara Upacara dalam masyarakat Dayak

Upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan religi. Perwujudannya direalisasikan melalui berbagai ritus atau upacara ritual, agar mereka memperoleh pertolongan roh gaib, roh para leluhur, dan Jubata. Upacara dalam konsep kepercayaan seperti itu dimaksudkan sebagai pembuktian keyakinan terhadap Jubata sekaligus pemantapannya. Ia merupakan transpormasi hubungan manusia dengan alam gaib sebagaimana tergambar dalam setiap prosesi upacara. Di sinilah masyarakat memperjelas dan mempertegas konsep tentang apa yang mereka yakini dan adat yang mereka jalankan. Usaha memperjelas itu dilalui dengan tindakan, mantra-mantra, nyanyian, musik dan tari, sampai pada penuangan simbol-simbol tertentu. Konsep seperti ini akhirnya membawa posisi religi lebih mendominasi dalam kehidupan mereka. Mereka membagi upacara-upacara tersebut menjadi beberapa macam sebagai beikut.

a. Upacara yang Berkaitan dengan Inisiasi

1) Upacara sebelum perkawinan.
Biasanya sebelum upacara pernikahan diadakan, terlebih dahulu pihak keluarga melakukan Bahaupm (musyawarah). Pada upacara ini calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan akan menentukan apakah suami ikut istri atau sebaliknya.

2) Upacara Ngaladakng Buntikng
Upacara ini dilaksanakan di kamar suami istri pada saat hamil 3 bulan. Upacara ini dilakukan dengan maksud menghindari keguguran, terutama saat hamil pertama.

3) Upacara Batalah
Upacara Batatah, yaitu upacara untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir. Upacara ini dilakukan setelah tiga atau tujuh hari kelahiran bayi yang didahului dengan prosesi pemandian bayi. Apabila upacara ini dilakukan pada hari ketiga setelah kelahiran bayi, maka upacara ini harus disertai dengan penyembelihan seekor ayam untuk selamatan. Bila upacara dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disembelih seekor babi untuk perjamuan dan balas jasa yang menolong kelahiran.

4). Upacara Batenek
Batenek adalah upacara melubangi telinga anak perempuan. Upacara ini dilakukan setelah anak berumur antara dua sampai tiga tahun.

5) Upacara Babalak
Babalak adalah upacara penyunatan anak laki-laki di bawah usia sepuluh tahun. Upacara ini masih tetap dijalankan walaupun orang Dayak masih memegang kuat kepercayaan lama. Dalam upacara ini biasanya disembelih tiga ekor babi dan dua belas ekor ayam. Bagi keluarga yang tidak mampu, perayaannya dapat digabungkan dengan keluarga lain yang mampu, namun harus menyumbang seekor ayam, tiga kilogram beras sunguh (beras biasa), dan tiga kilogram beras pulut (ketan).

6) Upacara adat Karusakatn.
Karusakatn adalah upacara yang berhubungan dengan kematian. Bagi orang Dayak Kanayatn, orang yang meninggal harus dikuburkan paling lama satu malam setelah meninggal. Upacara kematian ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
(a) Upacara adat Basubur, yakni upacara untuk memberi makan orang yang telah meninggal;
(b) Upacara Barapus, yaitu upacara yang dilakukan tiga hari setelah pemakaman untuk memberitahukan kepada orang yang meninggal bahwa ia telah meninggal dunia;
(c) Upacara Malahi, yaitu upacara yang dilakukan di tengah ladang seperti orang yang meninggal itu melakukan sesuatu, seperti mengerjakan ladang atau sedang panen. Pelaksanaan upacara ini bertujuan agar arwah orang yang meninggal tidak mengganggu ladang;
(d) Upacara Ngalapasatn tahun mati, yakni upacara untuk melepas arwah orang yang telah meninggal setelah tiga tahun. Jika belum genap tiga tahun, maka keluarga orang yang meninggal harus memberi sesaji setiap ada upacara adat.


b. Upacara yang Berkaitan dengan Pertanian

Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sebagai masyarakat petani, orang Dayak Kanayatn memiliki beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian selama satu tahun, yang dkenal dengan adat bahuma batahutn. Menurut aturan adat dikenal sejumlah upacara yang dilakukan pada setiap tahapan pertanian. Tahap-tahap pertanian ini dimulai setiap bulan Juni sampai bulan April. Adapun urutan upacara yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Upacara Nabo’ Panyugu Nagari
Sebelum membuka suatu lahan pertanian, pertama-tama seluruh penduduk desa harus meminta ijin bersama-sama dengan cara berdoa di Panyugu (tempat ibadat) ketemenggungan. Agar doa ini terkabul, maka penduduk harus bapantang (menjalankan pantang) selama tiga hari tiga malam. Selama masa bapantang itu masyarakat tidak boleh bekerja, tidak makan daging, pakis, rebung, cendawan, dan keladi. Mereka juga tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor atau umpatan yang dapat menyebabkan bapantang itu gagal.

2) Upacara Nabo’ Panyugu Tahutn
Upacara ini dilakukan untuk menetapkan lokasi pertanian dengan sembahyang di Panyugu untuk memohon keselamatan dan berkah yang baik. Hal ini dilakukan karena masyarakat Dayak Kanayatn parcaya bahwa keberhasialan ritual dapat menentukan keberhasilan panen mereka tahun itu.

3) Upacara Ngawah
Upacara ini dilakukan malam hari untuk mencari tempat yang cocok untuk menanam padi. Pencarian lahan dilakukan dengan cara mengetahui gajala-gejala alam seperti bunyi burung dan binatang yang dapat memberi petunjuk kepada mereka dalam menentukan lahan pertanian. Adapun binatang-binatang itu, seperti kunikng, kalingkoet, tampi’ seak, ada’atn. Jika terdengar bunyi di atas bukit, berarti pertanian di dataran tinggi akan berhasil (ladang), namun bila bunyi berasal dari lembah, maka hal itu merupakan tanda pertanian ladang akan suram. Bila ditemukan bangkai binatang di atas lahan pertanian, menandakan bahwa lahan yang sudah ditentukan itu baik untuk ditanami.

4) Upacara Mandangar Rasi
Upacara ini dilakukan setelah upacara Ngawah. Upacara ini merupakan tanda bunyi dari alam yang menyatakan baik atau buruk hasil pertanian nanti (pesan rasi). Apabila pesan rasi dianggap baik, maka pekerjaan diteruskan, sebaliknya bila pesan dari rasi tidak baik, maka pekerjaan harus dihentikan.

5) Kegiatan Ngaratas
Ngaras merupakan kegiatan membuat lajur batas atas lahan pertanian dengan lahan tetangga. Setelah itu barulah bahuma (menebas) hutan sampai dengan selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan agar tidak terjadi pengambilan batas tanah ladang orang lain.

6) Nabakng
Nabakng adalah upacara menebang pohon setelah kegiatan menebas. Setelah itu dilakukan upacara baremah dengan membuat persembahan untuk Jubata, agar diperbolehkan memakai lahan pertanian atau ladang yang akan digarap. Bila ada pohon besar, maka pohon tersebut tidak ditebang, melainkan hanya dikurangi cabang-cabangnya. Orang Dayak Kanayatn percaya bahwa pohon besar biasanya dihinggapi burung tingkakok atau burung berkat padi yang menjaga dan menimbang buah padi, sehingga pada waktu panen nanti akan mendapat padi yang baik (berisi) dan melimpah.

7) Ngarangke Raba’
Ngarangke Raba’ adalah upacara mengeringkan tebasan dan tebangan dalam beberapa waktu untuk kemudian dibakar. Sebelum dibakar dilakukan ngaraki’ yaitu membersihkan daerah sekeliling yang akan dibakar untuk pencegahan merambatnya api secara luas. Upacara ini dilakukan untuk meminta berkah pada roh pelindung sebelum pekerjaan selanjutnya dilaksanakan.

8) Membuat Solor atau Jaujur
Upacara ini adalah upacara pembuatan tanda batas antara ladang milik sendiri dengan ladang tetangga agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman karena kesalahan pemakaian batas tanah garapan.

9) Upacara Batanam Padi
Upacara Batanam padi ini terdiri dari: (a) Upacara Ngalabuhan, yakni upacara memulai tanam padi; (b) Upacara Ngamala Lubakng Tugal. Upacara ini dilakukan di sawah atau ladang secara intensif agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, berhasil dan tidak diganggu hama; (c) Upacara Ngiliratn penyakit padi atau menghanyutkan padi-padi bekas gigitan hama maupun binatang ke sungai dengan maksud membuang sial (penyakit).

10) Upacara Ngabati
Upacara ini dilaksanakan di tengah ladang pada saat hendak panen padi atau saat padi menguning. Upacara ini merupakan permohonan agar padi yang telah menguning tersebut tidak diganggu hama tikus dan agar semua padi berisi, sehingga bila panen tiba hasilnya banyak.

11) Upacara Naik Dango
Upacara Naik Dango merupakan upacara inti dari beberapa tahapan upacara yang berkaitan dengan panen padi (pesta penen). Upacara ini merupakan upacara syukuran padi yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn setiap setahun sekali pada tanggal 27 April. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap kecamatan di Kabupaten Landak. Upacara ini merupakan upacara besar yang banyak melibatkan masyarakat dan kesenian di dalamnya.




 
Design by PHILIPUS NAHAYA | Web by PHILIPUS NAHAYA - Philipus Nahaya Themes | PHILIPUS NAHAYA