Senin, 06 Desember 2010
RUMAH BETANG
PANTAK Budaya Dayak
Sumber Penciptaan
Gambar 1. Pantak suku Dayak Kanayatn
Kedekatan dengan alam dan isinya sangat mempengaruhi kehidupan sosial dan kebudayan. Hal ini ditunjukkan secara khusus pada seni kerajinan masyarakat Dayak, dimana pola ragam hias atau ornamennya selalu ada sebagai stilisasi bentuk-bentuk tumbuhan, hewan dan roh leluhur.
Berawal dari ide-ide sederhana serta pengaruh dari pengalaman-pengalaman yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya seni, penulis coba berkreasi dengan karakteristik Pantak yang khas dan unik dari bentuk dasar Pantak yang tidak hanya sering sering ditemukan dilingkungan masyarakat Dayak melainkan dilingkungan lainnya pula, misalnya Totem di Papua, dan lainnya, sedangkan perbedaan karya dengan Pantak yang asli adalah bentuk, bahan serta arti dan maksud, karena karya yang dibuat tidak berdasarkan tokoh atau nenek moyang seperti Pantak pada umumnya, sedangkan pemindahan bahan dari media aslinya, yaitu kayu ke media logam dimaksudkan untuk ketahanan terhadap cuaca serta menambah kesan lebih monumental. Dengan memberikan sentuhan-sentuhan ornamen Dayak, dimaksudkan agar dapat mewakili ciri dari Dayak tersebut serta membedakanya dengan patung yang lainya dan Pantak itu sendiri. Berikut beberapa contoh gambar ornamen Dayak:
Gambar 2. Ornamen Dayak pada prisai.
Gambar 3. Salah satu contoh ornamen Dayak pada ukiran.
Landasan Teoritik
Pantak : Patung suku Dayak Kalimantan Barat yang terbuat dari kayu dan dimaksudkan untuk mengenang tokoh penting dalam kelompok.4
Dayak : Dayak merupakan nama kolektif untuk kelompok suku asli di Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman.5
Kanayatn : Salah satu sub suku Dayak terbesar yang mendiami kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak dan Landak di Proponsi Kalimantan Barat.6
Kriya : adalah kegiatan seni yang menitikberatkan kepada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai estetis.7
Proses Penciptaan
Metode Penciptaan
Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dilakukan adalah:
Pendekatan Estetik adalah, pendekatan aspek-aspek pengorganisasian unsur-unsur desain, berupa penggalian karakter bentuk yang diimplementasikan dalam konsep penciptaan yang berdasarkan konsep estetik, meliputi pertimbangan proporsi, kesatuan, keseimbangan serta harmoni bentuk karya yang diciptakan.
Pendekatan Historis : pendekatan yang dilakukan dengan memperhatikan sejarah tentang Pantak dan hal-hal yang berhubungan dengan kurun waktu.
Pendekatan Eksploratif : pendekatan yang dilakukan dengan menggali segala sesuatu yang berhubungan dengan Pantak.
Metode Perwujudan
Pembuatan Sketsa Alternatif
Berdasarkan judul, maka dapat dibuat sketsa alternatif berupa gambar-gambar yang dapat mewakili ide serta gagasan penciptaan karya seni.
Menentukan Sketsa Pilihan
Setelah membuat sketsa alternatif, dapat ditentukan sketsa-sketsa pilihan. Tahapan ini dilaksanakan berdasarkan konsultasi dosen pembimbing.
Pembuatan Desain Gambar Kerja
Setelah menentukan sketsa pilihan, maka dapat dilanjutkan dengan pembuatan gambar kerja yang dapat mendukung teknis perwujudan karya.
Pembentukan
Yang dimaksud dengan pembentukan adalah mengerjakan desain yang ada. Dengan demikian dapat dilaksanakan pengukuran, pembuatan model dan pembuatan cetakan.
Pengecoran
Tahapan ini adalah tahap dimana cetakan yang telah siap kemudian dituang dengan logam alumunium yang telah dicairkan.
Finishing
Sesuai dengan tujuannya yakni menambah kualitas dan pengawetan, proses finishing dilakukan dengan menghaluskan permukaan logam, dengan cara dikikir, digurinda, dipoles, dislep dan dicoting untuk memberikan lapisan pelindung dari proses pengrusakan yang ada.
TARIAN DAERAH DAYAK
Tari Dadas
Tari Dadas adalah sebuh tari yang berasal dari daerah Barito Selatan. Tarian ini adalah tarian muda-mudi dayak. Dengan menggunakan gelang dadas nuansa tari semakin terasa karena ditampilkan dengan musik yang seirama dengan gerak dan tari para penarinya. Adapun alat musik yang digunakan untuk menarikan tarian Dadas ini adalah gong, kangkanung, gendang dan alat musik khas masyarakat lainnya.
Tari Manggetem
Tari Manggetem adalah tarian kegembiraan masyarakat dayak dalam hal mensyukuri hasil panen yang berlimpah.
Tarian Pagar Ruyung
Tarian dari Kabupaten Lamandau ini sering sekali ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu dari luar daerah.
Tari Potong Pantan
Tarian memakai pakaian khas suku Dayak dengan hiasan bulu burung tingang di atas kepala. Tari Potong Pantan ini juga dilengkapi mandau (senjara khas Dayak) sebagai propertis. Biasanya tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu dalam acara resmi.
Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan perlatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.
Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Kancet Ledo menggambarkan kelemah-lembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua belah tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.
Tari Kancet Lasan
Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.
Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.
Tari Hudoq Kita'
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.
Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).
Tari Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.
Tari Kuyang
Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.
Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.
Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.
Tari Baraga' Bagantar
Awalnya Baraga' Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.
Tari Giring - giring
Tari Giring-giring adalah salah satu tarian daerah Kalteng dan kab. Bartim pada khususnya. Tarian ini dipopulerkan oleh kalangan suku Dayak Ma’anyan dan ditarikan dalam acara-acara bergembira, menyambut tamu dan juga sebagai selingan pada pesta-pesta atau acara tertentu. Selain itu, tari Giring-giring ini juga digunakan sebagai tarian pergaulan di kalangan muda-mudi. Cara menarinya yaitu dengan menghentakkan satu tongkat ke lantai yang dipegang di tangan kiri dan di tangan kanan memegang bambu yang di dalamnya berisi kerikil sambil digoyang-goyang agar mendapatkan bunyi, sedangkan kaki maju mundur mengikuti irama lagu.
Senjata Sukubangsa Dayak
Senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 - 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ - ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpit. Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam.
2. Tombak.
Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.
3. Perisai.
Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
4. Mandau.
senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Jika memakan nyawa ketika perang, mandau biasanya dilubangi sebanyak jumlah korban yang di bunuh.
Ada beberapa sub dayak yang baru terdeteksi di Kalimantan Barat:
1. Dayak Baicit
2. Dayak Ambawang
3. Dayak Kanayatn
4. Dayak Damea
5. Dayak Salako
6. Dayak Bajare
7. Dayak Desa
8. Dayak Bekidoh
9. Dayak Iban
10. Dayak Mualang
11. Dayak Bakati
12. Dayak Benyadu
13. Dayak Mali
14. Dayak Ribun
15. Dayak Belangin
16. Dayak udanum (serawai)
17. Dayak Peruan (sanggau)



23.18
Philipus Nahaya





