Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan Dayak. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2010

RUMAH BETANG

. MAKNA RUMAH BETANG
Rumah betang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang bersambung telah dikenal hampir oleh seluruh suku Dayak. Orang Iban menyebutnya “betai panjae”, dan orang Banuaka menyebutnya “sao langke”.
Rumah betang memberikan makna tersendiri bagi penghuninya. Bagi masyarakat Dayak, rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena hampir seluruh kegiatan hidup mereka berlangsung disana. Ralp Linton ( dalam The Culture Background of Personality, New York: Appleton-Century-Croft, 1945, yang dimuat oleh editor T.O Ilrohmi dalam buku yang disuntingnya dan diberi judul Pokok-Pokok Antropologi Budaya ) mengatakan :
“ Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Keseluruhan ini mencakup kegiatan-kegiatan dunia seperti mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari kebudayaan, hal ini sama derajatnya dengan hal-hal yang lebih halus dalam kehidupan. Karena itu, bagi seorang ilmu ahli sosial tidak ada masyarakat atau perorangan yang tidak memiliki kebudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya, dalam arti mengambil bagian dari suatu kebudayaan.”[2]

C. KEHIDUPAN KOMUNAL DI RUMAH BETANG
Rumah betang yang tersisa pada masyarakat Dayak merupakan contoh kehidupan budaya tradisional yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Kiranya perlu diungkapkan lebih jauh faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Dayak dapat mempertahankan rumah betang mereka.
Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama secara berdampingan dengan alam dan warga masyarakat lainnya. Mereka gemar hidup damai dalam komunitas yang harmonis sehingga berusaha terus bertahan dengan pola kehidupan rumah betang. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.
Dengan mempertahankan rumah betang, masyarakat Dayak tidak menolak perubahan, baik dari dalam maupun dari luar, terutama perubahan yang menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah mereka.
Pola pemukiman rumah betang erat hubungannya dengan sumber-sumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan untuk berladang, sungai yang banyak ikan, dan hutan-hutan yang dihuni binatang buruan. Namun dewasa ini, ketergantungan pada alam secara bertahap sudah mulai berkurang. Masyarakat Dayak telah mulai mengenal perkebunan dan peternakan.
Rumah betang menggambarkan keakraban hubungan dalam keluarga dan pada masyarakat.[3]
D. SENI TRADISIONAL
Rumah betang selain tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah betang menyerupai proses pendidikan tradisional yang bersifat non formal.
Dalam masyarakat Dayak terdapat pembagian tugas atau perbedaan dalam mengerjakan seni tradisional. Kaum pria terampil dalam ngamboh ( pandai besi ), menganyam, dan mengukir, sedangkan wanita lebih terampil dalam menenun dan menganyam yang halus.
Dalam kelompok yang relatif kecil lebih mudah bagi setiap warga untuk berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mereka dapat berguna dalam masyarakat, sebab apabila mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mereka dianggap pemalas.

E. BAGIAN –BAGIAN PADA RUMAH BETANG SUKU DAYAK

1. Tangga
Tangga untuk naik ke rumah betang berjumlah tiga, yaitu di ujung kiri kanan dan satu di bagian depan yang menandakan untuk pengungkapan rasa komunitas dan solidaritas warga yang berada di dalam rumah tersebut. Anak tangga biasanya mempunyai hitungan mistik yaitu tonggak(ganjil), tunggak dan tidak boleh jatuh pada hitungan tinggal (genap). Hitunggan anak tangga dimulai dari hitunggan dari tonggak dan seterusnya sesuai tinggi rendahnya rumah, kepala tangga dibuat patung kepala manusia yang dalam mistiknya sebagai penunggu, penjaga rumah beserta isi keluarga yang mendiami agar yidak diganggu oleh roh ataupun marabahaya.

Posisi tangga
1. Ada rumah betang yang memiliki tangga di kedua sisi ujung rumah panjang. Biasanya untuk rumah yang ukurannya sangat panjang (300 – 400 m) biasanya dibuat dengan tujuan memudahkan akses dari kedua sisi masing-masing rumah.
2. Ada juga rumah betang yang memiliki hanya 1 tangga dan terletak di depan dan tengah – tengah. Ukuran panjang rumah ini pun hanya mencapai 200 m.
3. Pada rumah betang yang baru (kepentingan pariwisata), biasanya di bangun tiga tangga. Dua tangga di sisi kiri dan kanan dan satu tangga di tengah bagian depan.
2. Pante
Merupakan lantai yang berada didepan bagian luar atap yeng menjorok ke luar, berfunggsi sebagai tempat antara lain: menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainya. Lantai pante berasal dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan.
3. Serambi
Merupakan pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarut halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas ( semacam janur ).
4. Sami
Merupakan ruangan terbuka milik bersama, digunakan sebagai tempat menerima tamu, menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan. Ditempat ini biasanya para tamu yang datang dipersilahkan duduk dan disuguhi hidangan oleh tuan rumah di bilik yang didatangi sedangkan keluarga yang lain biasanya juga ikut memberikan suguhan sebagai tanda kebersamaan antar keluarga dalam komunitas di rumah panjang ini.
5. Dapur
Disudut ruangan dalam bilik masing-masing keluarga ada dapur dengan kelengkapannya ( para api ).
6. Jungkar
Merupakan ruangan tambahan dibagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau ada kalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang. Jungkar ini terkadang ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu keluarga, agar tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang. Jungkar yang atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan tingaatn ( ventilasi pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu ) yang sewaktu hujan atau malam hari dapat ditutup kembali.[4]

F. BANGUNAN-BANGUNAN TAMBAHAN SELAIN RUMAH BETANG
1. Jurokng (lumbung padi) ; biasa berbentuk bujur sangkar dan berukuran 4x4 atau 5x5 m. Di kalangan Dayak, lumbung merupakan tempat menyimpan padi cadangan sekaligus tempa diadakan upacara panen padi tempat bersyukur kepada Ponompa(Tuhan) atas hasil panen yang ada.
2. Pelaman ;gubuk tempa peristirahatan yang terdapat di ladang.
3. Sandong ; beberapa sub suku Dayak mempunyai tradisi seperti suku Indian yakni Totem. Dengan tiang penuh ukiran yang dipuncaknya terdapat patung enggang mereka meyakini tempat itu adalah penghubung antara dunia dan dunia di atas dunia. Biasanya juga ada yang menyimpan tulang para leluhurnya di atas sandong.
G. KONSTRUKSI RUMAH BETANG SECARA UMUM
Ada beberapa jenis rumah betang yang tersebar di kalimantan. Sesuai dengan yang telah diungkap di atas, masing-masing sub suku yang beragam (hingga 450 sub suku) membangun rumah panjang sesuai dengan karakteristik budaya dan kondisi alam. Secara umum bentuk rumah betang antar sub suku dibedakan dengan :






1. Tanpa hiasan
Rumah betang dengan atap tanpa hiasan merupakan rumah betang yang terbanyak yang masih dapat ditemui sekarang. Biasanya masih dihuni sampai sekarang. Seperti di daerah Kapuas Hulu, Sanggau dan Pontianak Kalimantan Barat.

PANTAK Budaya Dayak

  1. Sumber Penciptaan

Gambar 1. Pantak suku Dayak Kanayatn


Kedekatan dengan alam dan isinya sangat mempengaruhi kehidupan sosial dan kebudayan. Hal ini ditunjukkan secara khusus pada seni kerajinan masyarakat Dayak, dimana pola ragam hias atau ornamennya selalu ada sebagai stilisasi bentuk-bentuk tumbuhan, hewan dan roh leluhur.

Berawal dari ide-ide sederhana serta pengaruh dari pengalaman-pengalaman yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya seni, penulis coba berkreasi dengan karakteristik Pantak yang khas dan unik dari bentuk dasar Pantak yang tidak hanya sering sering ditemukan dilingkungan masyarakat Dayak melainkan dilingkungan lainnya pula, misalnya Totem di Papua, dan lainnya, sedangkan perbedaan karya dengan Pantak yang asli adalah bentuk, bahan serta arti dan maksud, karena karya yang dibuat tidak berdasarkan tokoh atau nenek moyang seperti Pantak pada umumnya, sedangkan pemindahan bahan dari media aslinya, yaitu kayu ke media logam dimaksudkan untuk ketahanan terhadap cuaca serta menambah kesan lebih monumental. Dengan memberikan sentuhan-sentuhan ornamen Dayak, dimaksudkan agar dapat mewakili ciri dari Dayak tersebut serta membedakanya dengan patung yang lainya dan Pantak itu sendiri. Berikut beberapa contoh gambar ornamen Dayak:

Gambar 2. Ornamen Dayak pada prisai.



Gambar 3. Salah satu contoh ornamen Dayak pada ukiran.


  1. Landasan Teoritik


    1. Pantak : Patung suku Dayak Kalimantan Barat yang terbuat dari kayu dan dimaksudkan untuk mengenang tokoh penting dalam kelompok.4

    2. Dayak : Dayak merupakan nama kolektif untuk kelompok suku asli di Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman.5

    3. Kanayatn : Salah satu sub suku Dayak terbesar yang mendiami kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak dan Landak di Proponsi Kalimantan Barat.6

    4. Kriya : adalah kegiatan seni yang menitikberatkan kepada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai estetis.7


      1. Proses Penciptaan


        1. Metode Penciptaan

          1. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang dilakukan adalah:


            1. Pendekatan Estetik adalah, pendekatan aspek-aspek pengorganisasian unsur-unsur desain, berupa penggalian karakter bentuk yang diimplementasikan dalam konsep penciptaan yang berdasarkan konsep estetik, meliputi pertimbangan proporsi, kesatuan, keseimbangan serta harmoni bentuk karya yang diciptakan.


            1. Pendekatan Historis : pendekatan yang dilakukan dengan memperhatikan sejarah tentang Pantak dan hal-hal yang berhubungan dengan kurun waktu.


            1. Pendekatan Eksploratif : pendekatan yang dilakukan dengan menggali segala sesuatu yang berhubungan dengan Pantak.


          1. Metode Perwujudan

  1. Pembuatan Sketsa Alternatif

Berdasarkan judul, maka dapat dibuat sketsa alternatif berupa gambar-gambar yang dapat mewakili ide serta gagasan penciptaan karya seni.


  1. Menentukan Sketsa Pilihan

Setelah membuat sketsa alternatif, dapat ditentukan sketsa-sketsa pilihan. Tahapan ini dilaksanakan berdasarkan konsultasi dosen pembimbing.


  1. Pembuatan Desain Gambar Kerja

Setelah menentukan sketsa pilihan, maka dapat dilanjutkan dengan pembuatan gambar kerja yang dapat mendukung teknis perwujudan karya.


  1. Pembentukan

Yang dimaksud dengan pembentukan adalah mengerjakan desain yang ada. Dengan demikian dapat dilaksanakan pengukuran, pembuatan model dan pembuatan cetakan.


  1. Pengecoran

Tahapan ini adalah tahap dimana cetakan yang telah siap kemudian dituang dengan logam alumunium yang telah dicairkan.


  1. Finishing

Sesuai dengan tujuannya yakni menambah kualitas dan pengawetan, proses finishing dilakukan dengan menghaluskan permukaan logam, dengan cara dikikir, digurinda, dipoles, dislep dan dicoting untuk memberikan lapisan pelindung dari proses pengrusakan yang ada.


TARIAN DAERAH DAYAK

Tari Dadas

dadasTari Dadas adalah sebuh tari yang berasal dari daerah Barito Selatan. Tarian ini adalah tarian muda-mudi dayak. Dengan menggunakan gelang dadas nuansa tari semakin terasa karena ditampilkan dengan musik yang seirama dengan gerak dan tari para penarinya. Adapun alat musik yang digunakan untuk menarikan tarian Dadas ini adalah gong, kangkanung, gendang dan alat musik khas masyarakat lainnya.

Tari Manggetem

manggetam

Tari Manggetem adalah tarian kegembiraan masyarakat dayak dalam hal mensyukuri hasil panen yang berlimpah.

Tarian Pagar Ruyung

pagaruyung

Tarian dari Kabupaten Lamandau ini sering sekali ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu dari luar daerah.

Tari Potong Pantan

Tarian memakai pakaian khas suku Dayak dengan hiasan bulu burung tingang di atas kepala. Tari Potong Pantan ini juga dilengkapi mandau (senjara khas Dayak) sebagai propertis. Biasanya tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu dalam acara resmi.

Tari Kancet Papatai / Tari Perang

Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan perlatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

Tari Kancet Ledo / Tari Gong

Jika Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Kancet Ledo menggambarkan kelemah-lembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua belah tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

Tari Kancet Lasan

Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

Tari Leleng

Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

Tari Hudoq

Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

Tari Hudoq Kita'

Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

Tari Serumpai

Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).

Tari Belian Bawo

Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

Tari Kuyang

Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

Tari Pecuk Kina

Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

Tari Datun

Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

Tari Ngerangkau

Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.

Tari Baraga' Bagantar

Awalnya Baraga' Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

Tari Giring - giring

Tari Giring-giring adalah salah satu tarian daerah Kalteng dan kab. Bartim pada khususnya. Tarian ini dipopulerkan oleh kalangan suku Dayak Ma’anyan dan ditarikan dalam acara-acara bergembira, menyambut tamu dan juga sebagai selingan pada pesta-pesta atau acara tertentu. Selain itu, tari Giring-giring ini juga digunakan sebagai tarian pergaulan di kalangan muda-mudi. Cara menarinya yaitu dengan menghentakkan satu tongkat ke lantai yang dipegang di tangan kiri dan di tangan kanan memegang bambu yang di dalamnya berisi kerikil sambil digoyang-goyang agar mendapatkan bunyi, sedangkan kaki maju mundur mengikuti irama lagu.

Senjata Sukubangsa Dayak

1. Sumpit.
Senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 - 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ - ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpit. Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam.

2. Tombak.
Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.

3. Perisai.
Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.

4. Mandau.
senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Jika memakan nyawa ketika perang, mandau biasanya dilubangi sebanyak jumlah korban yang di bunuh.

Ada beberapa sub dayak yang baru terdeteksi di Kalimantan Barat:
1. Dayak Baicit
2. Dayak Ambawang
3. Dayak Kanayatn
4. Dayak Damea
5. Dayak Salako
6. Dayak Bajare
7. Dayak Desa
8. Dayak Bekidoh
9. Dayak Iban
10. Dayak Mualang
11. Dayak Bakati
12. Dayak Benyadu
13. Dayak Mali
14. Dayak Ribun
15. Dayak Belangin
16. Dayak udanum (serawai)
17. Dayak Peruan (sanggau)




 
Design by PHILIPUS NAHAYA | Web by PHILIPUS NAHAYA - Philipus Nahaya Themes | PHILIPUS NAHAYA